Senin, 05 Januari 2009

पेनुरुनन कुअलितास लिंग्कुंगन अकिबत अक्तिफितास TAMBANG

PENURUNAN KUALITAS LINGKUNGAN AKIBAT
AKTIFITAS TAMBANG
(Suatu Pertimbangan Penting Dalam Menentukan Kebijakan Sektor Pertambangan)

Oleh:
HARIZAL A. LATIEF, S.Pi

Pertambangan merupakan salah satu sektor pembangunan yang sedang digalakkan di Indonesia. Pembangunan dan pengembangan sektor ini dilakukan karena berhubungan erat antara lain dengan pendapatan daerah, manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar tambang. Kontribusi sektor ini pada pembangunan daerah dirasakan cukup siknifikan. Namun demikian, pengembangan sektor ini sebaiknya tidak dipisahkan dengan isu kegiatan/aktifitas pertambangan itu sendiri di mana aktifitas pertambangan selalu berhubungan dengan dampaknya terhadap lingkungan, pembuangan limbah tambang, pencemaran logam berat (air raksa, arsen), dan lain sebagainya. Dalam penentuan kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya mineral, sejalan dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah pada awal tahun 2001 mendatang yang merupakan era memacu proses desentralisasi di berbagai sektor pemerintahan termasuk sektor pertambangan, maka isu aktifitas pertambangan yang dihubungkan dengan kualitas lingkungan sangat perlu diperhatikan dan dipertimbangkan untuk menjamin keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan serta menjamin iklim investasi yang kondusif bagi investor untuk pertambangan yang berskala besar.
Berdasarkan latar belakang di atas maka tulisan ini yang disusun berdasarkan tinjauan pustaka secara singkat mencoba membahas mengenai penurunan kualitas lingkungan akibat aktifitas pertambangan (walaupun disadari bahwa pustaka mengenai topik ini, sejauh pustaka yang sudah ditelusuri, masih sangat minim). Dalam tulisan ini kegiatan pertambangan dipahami sebagai kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh rakyat (Pertambangan Skala Kecil) dan pertambangan yang dilakukan oleh perusahaan (Pertambangan Skala Besar). Khusus untuk pertambangan skala besar, perusahaan pertambangan emas PT. NMR dijadikan sebagai contoh karena perusahaan ini adalah satu-satunya perusahaan besar yang sementara beroperasi. Dan, pada akhir dari tulisan ini rekomendasi diberikan di mana diharapkan sebagai masukan dan pertimbangan dalam penentuan kebijakan Pemerintah Daerah untuk sektor pertambangan.

LIMBAH (TAILING) TAMBANG DAN DAMPAKNYA
Bentuk Limbah (Tailing) Tambang
Aktifitas tambang emas tak pernah lepas dari limbah hasil proses ekstraksi emas, limbah tersebut biasa disebut tailing. Bentuk fisik limbah dapat berwujud gas, cair, dan padat. Secara fisik gas buangan mengandung partikel-artikel debu dan secara kimia merupakan larutan berbagai jenis gas tergantung dari jenis mineral bijih yang diolah. Limbah cair mengandung bahan-bahan kimia beracun dari logam-logam berat dan sianida dengan konsentrasi yang relatif masih tinggi. Sedangkan limbah padat mempunyai komposisi kimia utamanya adalah sesuai dengan batuan induknya.

Jenis Tailing
1. Aliran Asam Tambang (Acid Mine Drainage). Aliran Asam Tambang (Acid Mine Drainage/AMD atau Acid Rock Drinage/ARD) merupakan limbah yang selalu menjadi masalah bagi kegiatan pertambangan; bahan ini sangat beracun (toksik) yang ditandai oleh tingkatan pH yang sangat rendah. Aliran asam sebagai suatu fenomena alam terbentuk oleh karena proses oksidasi yang terjadi pada permukaan partikel bebatuan karena langsung bereaksi dengan oksigen. Hughes & Poole 1989 menyatakan bahwa aliran asam ini diperani oleh mikroorganisme yang terdapat pada permukaan partikel.

2. Sedimen (Proses Sedimentasi). Tailing pada umumnya berbentuk padatan tersuspensi partikel lumpur dalam limbah cair bersama dengan partikel halus (ukuran <75 mm) dalam limbah padat. Sebagai contoh, tailing PT. NMR dibuang melalui pipa pembuangan ke lingkungan perairan Teluk Buyat di kedalaman ±82 meter dengan volume ±2000 ton per hari. Manakala tailing yang mengandung air tawar bercampur dengan air laut di perairan maka tailing tersebut mengalami pengelompokan (flocculation) dan terendapkan ke dasar perairan sebagai sedimen, namun laju pengendapannya berbeda-beda tergantung dari kondisi perairan. Dalam kasus ini Anonimus (1998) melaporkan bahwa sedimentasi total di daerah pantai sekitar Teluk Buyat (stasiun yang terdekat dengan Teluk Buyat pada sisi kiri dan kanan, yaitu ST#4 dan #5) pada kurun waktu antara Bulan Juli dan Oktober 1998 adalah berkisar 52.9601-216.3579 gram dengan laju sedimentasi berkisar 0.5092-2.1006 gram/hari dan kondisi ‘sangat keruh’. Nilai-nilai yang ditunjukkan tersebut dapat diartikan bahwa perairan di dan sekitar Teluk Buyat telah mengalami sedimentasi yang sangat tinggi dengan kondisi jelek jika dibandingkan dengan daerah yang jauh dari perairan Teluk Buyat (stasiun di depan Kotabunan, yaitu ST#7) pada kurun waktu yang sama (sedimentasi total sebesar 3.0757 gram dan laju sedimentasi sebesar 0.0290 gram/hari). Dampak Sedimentasi. Sedimentasi yang terjadi di suatu perairan dapat berpengaruh antara lain pada pendangkalan dan perubahan bentang alam dasar laut, kesuburan perairan, dan keanekaragaman hayati. a. Pendangkalan dan Perubahan Bentang Alam Dasar Laut. Laporan RKL/RPL PT. Newmont untuk periode Oktober-Desember 1998 menyatakan bahwa terjadi penumpukan sedimen disekitar ujung pipa (anus pipa) ±9 meter. Selanjutnya Anonimus 1999b melaporkan bahwa berdasarkan peta PT. NMR Tahun 1997, lokasi buangan limbah tailing (anus pipa) berada pada kedalaman air ±80-an meter. Pada pengukuran batimetri tahun 1999 telah terjadi perubahan kedalaman di anus pipa tailing, menjadi ±70 meter. Telah terjadi pendangkalan setebal 10 meter. Hasil pengukuran ini telah mengakibatkan perubahan kontur laut (batimetri) dari tahun 1997 ke tahun 1999. Kondisi ini dipertegas lagi dengan hasil pengukuran pada tahun 2000. Dengan demikian telah terjadi sedimentasi pada area yang cukup luas di perairan Teluk Buyat. b. Kesuburan Perairan. Anonimus 2000 menyatakan bahwa dampak dari adanya sedimentasi di Teluk Buyat di mana terjadinya penyebaran lumpur pekat dengan ketebalan antara 5 dan 10 meter menyebabkan kerusakan karang. Luasnya bidang yang tertutup sedimen akibat tailing telah menutupi area produktif perairan Teluk Buyat, dimana area ini adalah area pemijahan bagi biota laut, area estuaria yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) yang kaya. c. Keanekaragaman Hayati. Dampak penimbunan oleh sedimen (sedimentasi) yang terjadi diperairan baik secara langsung maupun tidak berhubungan dengan keberadaaan keanekaragaman hayati. Penimbunan dasar perairan oleh sedimen tailing dapat merusak dan memusnahkan komunitas bentik sehingga dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati.

3. Sianida. Keberadaan Sianida. Sianida merupakan racun pembunuh yang paling ampuh untuk semua jenis mahluk hidup. Sianida berada di perairan Teluk Buyat oleh karena penggunaannya oleh PT. NMR dalam proses sianidasi ekstraksi emas. Beberapa penelitian telah mencoba mengukur konsentrasi total sianida, baik yang terlarut dalam air, sedimen, dan biota. Anonimus (1999b) melaporkan konsentrasi ion sianida pada dua macam jaringan tubuh biota laut (ikan), yaitu daging dan hati/perut. Ditemukan bahwa pada jaringan daging, konsentrasi ion sianida berkisar 0.177-0.554 ppm; sedangkan pada jaringan hati/perut berkisar 0.064-2.770 ppm. Belum dapat dikatakan apakah nilai konsentrasi tersebut tinggi atau rendah karena setelah ditelusuri belum ditemukan pustaka yang dapat dijadikan pembanding. Anonimus (1999) menjelaskan bahwa konsentrasi sianida di perairan Teluk Buyat masih berada di bawah batas ambang yang ditentukan oleh PP 20 Tahun 1990 (tentang pengendalian pencemaran air), di mana Peraturan Pemerintah tersebut membolehkan konsentrasi sianida di perairan bagi peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C) adalah 0.002 ppm. Sebaliknya, walaupun sianida ditemukan pada jaringan biota laut (ikan) pada konsentrasi 2.770, status pencemarannya belum diketahui karena belum ada peraturan yang mengaturnya. Dampak Sianida. (Kontaminasi pada Biota Laut). Sianida merupakan racun bagi semua mahluk hidup. Brachet (1957) melaporkan bahwa sianida disamping dapat menghambat pernapasan juga dapat mengakibatkan perkembangan sel yang tidak sempurna pada organisme laut. Selanjutnya, sianida dapat menghambat kerja ensim ferisitokrom oksidase dalam proses pengambilan oksigen untuk pernapasan sehingga kontaminasi pada biota laut dapat menyebabkan mortalitas. Keanekaragaman Hayati. Hasil penelitian Anonimus (2000) melaporkan penurunan jumlah jenis ikan yang pernah tertangkap di peairan Teluk Buyat dari 59 jenis (sebelum Tahun 1997) menjadi 13 jenis ikan. Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa telah terjadi pergesaran lokasi penangkapan ikan yang sangat mencolok.

4. Logam Berat. Keberadaan Logam Berat. Konsentrasi logam berat, khsusnya merkuri (Hg), di perairan Sulawesi Utara dikhawatirkan meningkat sejalan dengan meningkatnya sumber yang ada. Pemakaian merkuri sebagai bahan kimia pembantu dalam proses amalgam untuk memperoleh emas oleh pertampangan rakyat merupakan sumber merkuri yang sangat besar di lingkungan. Keberadaan logam berat (misalnya As, Cd, dan Hg) di perairan Teluk Buyat telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Logam-logam berat ini berasal dari batuan/biji yang mengandung emas (ore) yang secara kontinyu dilepaskan ke lingkungan hidup (biosfir) oleh aktifitas pertambangan. Jenis unsur logam yang terkandung di dalam tailing tergantung dari jenis mineral yang terdapat di dalam biji, misalnya PT. NMR mengambil jenis Sinabar maka akan mengeluarkan tailing yang mengandung Hg, Realgar mengeluarkan Arsen (As), dan Arsenopirit mengeluarkan Arsen (As)/Besi (Fe). Berbagai logam berat yang terlarut dalam tailing berbentuk cair akan terendapkan ke sedimen di dasar perairan bersama-sama dengan partikel-partikel halus yang mengalami flocculation. Sehingga keberadaan logam-logam berat di sedimen akan berada terus-menerus di dasar perairan. Pada dasarnya logam berat berasal dari dalam tanah jauh dari lingkungan hidup (biosfir), namun oleh kegiatan tambang logam-logam tersebut masuk ke lingkungan hidup manusia. Anonimus (1999) melaporkan konsentrasi Arsen (As) di perairan Teluk Buyat, khususnya yang terdapat pada sedimen sebesar 645.00 ppm, sedangkan pada jaringan ikan dan plankton, berturut-turut sebesar 3.40 dan 17.48 ppm (konsentrasi tertinggi di dalam sampel). Anonimus (1999b) juga melaporkan konsentrasi logam berat ini yang terdapat pada sedimen dan biota laut (ikan) adalah berturut-turut sebesar 0.176 dan 0.032 ppm (konsentrasi tertinggi di dalam sampel). Konsentrasi As yang terkandung di dalam tailing hasil olahan tambang PT. NMR telah dilaporkan sebelumnya oleh Anonimus 1994 sebesar 840 ppm. Dampak Logam Berat (Kontaminasi pada Biota Laut). Arsen (As). Anonimus (1999a) selanjutnya melaporkan bahwa konsentrasi As pada jaringan plankton cukup tinggi, dan ini menindikasikan bahwa logam berat As telah masuk ke dalam rantai makanan di laut. Selanjutnya dijelaskan bahwa As yang beracun ini suatu saat akan masuk ke dalam biota laut dan akhirnya ke tubuh manusia. Rantai makanan dapat berfungsi dalam pembesaran logam berat secara biologi (biomaknifikasi) di mana konsentrasi yang sangat tinggi akan ditemukan pada rantai makanan tertinggi. Merkuri (Hg). Di alam merkuri (air raksa) ditemukan dalam bentuk elemen merkuri (Hg0), merkuri monovalen (HgI), dan bivalen (HgII). Merkuri apabila masuk ke dalam perairan mudah berikatan dengan klor yang ada pada air laut, reaksi kimianya akan membentuk ikatan HgCl (senyawa merkuri in-organik), pada bentuk ini Hg mudah masuk ke dalam plankton dan dapat berpindah ke biota laut lain. Merkuri inorganik (HgCl) akan tertransformasi menjadi merkuri organik (merkuri metil) oleh peran mikroorganisme yang terjadi di sedimen di dasar perairan. Menurut Waldock (1994), senyawa metil-merkuri adalah bentuk merkuri organik yang umum terdapat di lingkungan perairan. Senyawa ini sangat beracun dan diperkirakan 4-31 kali lebih beracun dari bentuk merkuri inorganik. Selain itu, merkuri dalam bentuk organik yang umumnya berada pada konsentrasi rendah di air dan sedimen adalah bersifat sangat bioakumulatif (terserap secara biologis). Metil-merkuri dalam jumlah 99% terdapat di dalam jaringan daging ikan.
Berdasarkan kajian pustaka yang dikumpulkan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Aliran Asam Tambang (Acid Main Drainage) merupakan tailing yang paling beracun karena mempunyai tingkat keasaman (pH) yang rendah. 2. Sedimentasi dan laju sedimentasi yang tinggi diakibatkan oleh partikel-partikel tailing. Sedimen berdampak pada pendangkalan dan perubahan bentang alam dasar laut, kesuburan perairan, dan keanekaragaman hayati. 3. Sianida merupakan limbah yang sangat berbahaya bagi biota laut, walaupun konsentrasinya masih berada di bawah ambang batas tapi ion sianida dapat ditemukan pada jaringan daging biota laut (ikan). Dapat berdampak pada kontaminasi pada biota laut dan keanekaragaman hayati perairan. 4. Logam berat seperti Arsen (As) dan merkuri (Hg) yang sudah mengkontaminasi perairan, baik pada sedimen maupun pada biota laut (ikan) dan dikhawatirkan dapat mengkontaminasi manusia.

Penulis Adalah Alumnus Fakultas
Kelautan dan Perikanan Universitas
Brawijaya Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar